Selasa, 23 Desember 2014

Terjadinya suatu perubahan pandangan pendidikan ke arah Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH), karena:
- Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat dilandasi alasan bahwa: (a) semakin banyaknya keluaran dari system persekolahan (system pendidikan formal) yang ingin melanjutkan pendidikan, (b) cepatnya perkembangan pengetahuan baru mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masan.
- Pendidikan Sepanjang Masa dipandang sebagai hal yang melatarbelakangi kebutuhan system pendidikan secara keseluruhan yang dapat merespon kebutuhan dan tujuan dasar bidang social ekonomi, politik atau kebudayaan.
- Banyaknya hasil penelitian tentang sekolah yang antara lain menyatakan “Bahwa system pendidikan dewasa ini tidak sesuai sebagaimana yang diharapkan”.
- Peningkatan kuantitas dan kualitas sekolah tidak membantu memecahkan pemenuhan kebutuhan hidup, dan perbaikan system sekolah hanya menguntungkan mereka yang sudah mendapat kesempatan sekolah, sedang di luarnya masih banyak berjuta-juta anak yang menunggu kesempatan ini.
- Keterbatasan system persekolahan yang telah mempaketkan atau membakukan sehingga para siswa menerima pengetahuan dengan keahlian yang telah terpilihkan dan dengan resiko dapat digunakan/tidak setelah akhir studinya. Di sisi lain system persekolahan, mengharuskan siswa berada di dalam bentuk menyeluruh dan keahlian yang sejenis sehingga terasing dari pengetahuan dan keahlian lain.
Konsep/Teori Pendidikan/Belajar Sepanjang Hayat sehingga berbeda dengan dimensi pendidikan sekolah adalah sbb:
- Asas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu asas bahwa pendidikan merupakan suatu proses kontinyu, yang bermula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini tidak hanya terbatas pada bangku sekolah, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal baik yang berlangsung dalam keluarga, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat. Inilah yang membedakan konsep Pendidikan Seumur Hidup sehingga berbeda dengan pendidikan sekolah.
Implikasi bagi pengembangan pendidikan sekolah dan pendidikan di masyarakat adalah sbb: Implikasi diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan, tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
- Penerapan asas Pendidikan Seumur Hidup pada isi Program Pendidikan Sekolan, mencakup mutu pendidikan yang hanya terwujud jika proses pendidikan di sekolah benar-benar menjadikan siswa belajar dan belajar sebanyak mungkin. Mutu pendidikan harus dilihat dari meningkatnya kemampuan belajar siswa secara mandiri. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dihidupkan dalam proses pengembangan pendidikan sekolah (belajar mengajar), yakni: (1) perkembangan peserta didik; salah satu nilai mendasar dalam menumbuhkan perkembangan diri anak adalah rasa kepercayaan diri. Dalam kerangka ini fungsi guru adalah membantu anak untuk mengetahui sesuatu yang ada dalam dirinya,(2) Kemandirian anak; kemampuan anak untuk menentukan diri, pendapat maupun penilaian atas diri dan realitas social harus dihargai, (3) vitalitas model hubungan demokrasi; artinya yang diberlakukan dala proses belajar mengajar bukan sikap otoriter, yang menempatkan guru sebagai lawan dari guru, melainkan sikap partisipatif dan kooperatif, (4) vitalisasi jiwa eksploratif; dalam kerangka ini, jiwa eksploratif sangatlah penting mendapat ruang gerak. Daya kritis anak, semangat mencari, menyelidiki dan meneliti perlu ditumbuhkan. Hal inilah sebagai basis bagi lahirnya kreativitas, (5) Kebebasan; ada dua hal mengapa kebebasan diperlukan, pertama; kebebasan merupakan hak asasi manusia yang mendasar, artinya hak untuk bicara, berkreasi merupakan bagian dari hak asasi manusia, kedua; kebebasan merupakan syarat untuk perkembangan. Anak-anak yang selalu dikekang dengan sikap otoriter tidak mungkin akan bisa berkembang secara kritis, apalagi mampu berkreasi, selain memiliki ketergantungan yang mutla, (6) menghidupkan pengalaman anak; pengalaman anak harus diperhatikan karena anak didik akan lebih tertarik dan mengikutkan hatinya dalam kegiatan belajar kalau apa yang diterimanya terkait dengan dunia nyata, (7) keseimbangan pengembangan aspek personal dan social; keseimbangan individualitas dan social akan melatih peserta didik untuk mampu bekerjasama dalam masyarakat, dan anak akan lebih terlatih untuk membiasakan diri hidup dalam kompetisii yang sehat dengan semangat solider dan saling menghargai, (8) kecerdasan emosional dan spiritual; kecerdasan anak perlu ditumbuhkembangkan dalam pembelajaran. Ini justru sangat penting karena kecerdasan emosi memungkinkan peserta didik mampu menumbuhkan sikap empati dan kepedulian, kejujuran, tenggang rasa, pengertian dan integritas diri serta keterampilan social yang merupakan landasan bagi tumbuhnya kesadaran moral anak.
- Penerapan asas Pendidikan Seumur Hidup pada isi program pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas dan bervariasi, sebagaimana yang dikutip oleh Soelaiman Joesoef-Slamet Santoso dari W.P Guruge dalam bukunya Toward Better Educational Management dikelempokkan menjadi beberapa kategori sbb: (1) Pendidikan Baca Tulis Fungsional; (2) Pendidikan Vokasional (3) Pendidikan Professional (4) Pendidikan ke arah Perubahan dan Pembangunan (5) Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik (6) Pendidikan Kultur dan Pengisian Waktu Senggang. Sasarannya bisa mencakup: para buruh dan petani, golongan remaja yang terganggu pendidikan sekolahnya, para pekerja yang berketerampilan, golongan teknisi dan professional, para pemimpin dalam masyarakat, dan golongan masyarakat yang sudah tua.
Inilah yang unik dari Pendidikan Non Formal
Semoga Bermanfaat..