Terjadinya suatu perubahan pandangan pendidikan ke arah Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH), karena:
- Konsep
Pendidikan Sepanjang Hayat dilandasi alasan bahwa: (a) semakin
banyaknya keluaran dari system persekolahan (system pendidikan formal)
yang ingin melanjutkan pendidikan, (b) cepatnya perkembangan pengetahuan
baru mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan dan tuntutan masan.
- Pendidikan
Sepanjang Masa dipandang sebagai hal yang melatarbelakangi kebutuhan
system pendidikan secara keseluruhan yang dapat merespon kebutuhan dan
tujuan dasar bidang social ekonomi, politik atau kebudayaan.
- Banyaknya hasil penelitian tentang sekolah yang antara lain menyatakan “Bahwa system pendidikan dewasa ini tidak sesuai sebagaimana yang diharapkan”.
- Peningkatan
kuantitas dan kualitas sekolah tidak membantu memecahkan pemenuhan
kebutuhan hidup, dan perbaikan system sekolah hanya menguntungkan mereka
yang sudah mendapat kesempatan sekolah, sedang di luarnya masih banyak
berjuta-juta anak yang menunggu kesempatan ini.
- Keterbatasan
system persekolahan yang telah mempaketkan atau membakukan sehingga
para siswa menerima pengetahuan dengan keahlian yang telah terpilihkan
dan dengan resiko dapat digunakan/tidak setelah akhir studinya. Di
sisi lain system persekolahan, mengharuskan siswa berada di dalam
bentuk menyeluruh dan keahlian yang sejenis sehingga terasing dari
pengetahuan dan keahlian lain.
Konsep/Teori Pendidikan/Belajar Sepanjang Hayat sehingga berbeda dengan dimensi pendidikan sekolah adalah sbb:
- Asas
pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu asas bahwa pendidikan
merupakan suatu proses kontinyu, yang bermula sejak seseorang dilahirkan
hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini tidak hanya terbatas pada bangku sekolah, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk belajar secara
informal baik yang berlangsung dalam keluarga, dalam pekerjaan dan
dalam kehidupan masyarakat. Inilah yang membedakan konsep Pendidikan
Seumur Hidup sehingga berbeda dengan pendidikan sekolah.
Implikasi bagi pengembangan pendidikan sekolah dan pendidikan di masyarakat adalah sbb: Implikasi diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan, tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
- Penerapan
asas Pendidikan Seumur Hidup pada isi Program Pendidikan Sekolan,
mencakup mutu pendidikan yang hanya terwujud jika proses pendidikan di
sekolah benar-benar menjadikan siswa belajar dan belajar sebanyak
mungkin. Mutu pendidikan harus dilihat dari meningkatnya kemampuan
belajar siswa secara mandiri. Oleh karena itu ada beberapa hal yang
perlu dihidupkan dalam proses pengembangan pendidikan sekolah (belajar
mengajar), yakni: (1) perkembangan peserta didik; salah satu nilai
mendasar dalam menumbuhkan perkembangan diri anak adalah rasa
kepercayaan diri. Dalam kerangka ini fungsi guru adalah
membantu anak untuk mengetahui sesuatu yang ada dalam dirinya,(2)
Kemandirian anak; kemampuan anak untuk menentukan diri, pendapat maupun
penilaian atas diri dan realitas social harus dihargai, (3) vitalitas
model hubungan demokrasi; artinya yang diberlakukan dala
proses belajar mengajar bukan sikap otoriter, yang menempatkan guru
sebagai lawan dari guru, melainkan sikap partisipatif dan kooperatif,
(4) vitalisasi jiwa eksploratif; dalam kerangka ini, jiwa eksploratif
sangatlah penting mendapat ruang gerak. Daya
kritis anak, semangat mencari, menyelidiki dan meneliti perlu
ditumbuhkan. Hal inilah sebagai basis bagi lahirnya kreativitas, (5)
Kebebasan; ada dua hal mengapa kebebasan diperlukan, pertama; kebebasan merupakan hak asasi manusia yang mendasar, artinya hak untuk bicara, berkreasi merupakan bagian dari hak asasi manusia, kedua;
kebebasan merupakan syarat untuk perkembangan. Anak-anak yang selalu
dikekang dengan sikap otoriter tidak mungkin akan bisa berkembang secara
kritis, apalagi mampu berkreasi, selain memiliki ketergantungan yang
mutla, (6) menghidupkan pengalaman anak; pengalaman anak harus
diperhatikan karena anak didik akan lebih tertarik dan mengikutkan
hatinya dalam kegiatan belajar kalau apa yang diterimanya terkait dengan
dunia nyata, (7) keseimbangan pengembangan aspek personal dan social;
keseimbangan individualitas dan social akan melatih peserta didik untuk
mampu bekerjasama dalam masyarakat, dan anak akan lebih terlatih untuk
membiasakan diri hidup dalam kompetisii yang sehat dengan semangat
solider dan saling menghargai, (8) kecerdasan emosional dan spiritual;
kecerdasan anak perlu ditumbuhkembangkan dalam pembelajaran. Ini justru
sangat penting karena kecerdasan emosi memungkinkan peserta didik mampu
menumbuhkan sikap empati dan kepedulian, kejujuran, tenggang rasa,
pengertian dan integritas diri serta keterampilan social yang merupakan
landasan bagi tumbuhnya kesadaran moral anak.
- Penerapan asas Pendidikan Seumur Hidup pada isi program pendidikan di masyarakat mengandung
kemungkinan yang luas dan bervariasi, sebagaimana yang dikutip oleh
Soelaiman Joesoef-Slamet Santoso dari W.P Guruge dalam bukunya Toward Better Educational Management dikelempokkan menjadi beberapa kategori sbb: (1)
Pendidikan Baca Tulis Fungsional; (2) Pendidikan Vokasional (3)
Pendidikan Professional (4) Pendidikan ke arah Perubahan dan Pembangunan
(5) Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik (6) Pendidikan
Kultur dan Pengisian Waktu Senggang. Sasarannya bisa mencakup:
para buruh dan petani, golongan remaja yang terganggu pendidikan
sekolahnya, para pekerja yang berketerampilan, golongan teknisi dan
professional, para pemimpin dalam masyarakat, dan golongan masyarakat
yang sudah tua.
Inilah yang unik dari Pendidikan Non Formal
Semoga Bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar